Selasa, 22 November 2011

Tunggu Cintaku di Jakarta-mu

“ Percayalah padaku Dytia, aku sudah menentukan pilihan hatiku.. dan itu adalah kamu “

Dytia kembali teringat akan kata kata Wira, sesaat sebelum mereka berpisah di pintu keberangkatan Bandara Soekarno Hatta sore tadi. Seiring dengan keberangkatan Wira sore ini ke Surabaya, maka saat itu pula segenap kegundahan pun menyelimuti Dytia, menanti hasil akhir yang membahagiakan untuk cerita cintanya dengan Wira.

Wira, pria yang baru saja dikenalnya dekat selama 3 bulan belakangan ini benar – benar telah mampu menyihir hidup Dytia. Membuat hidup Dytia kembali bersemangat, setelah kisah cintanya yang kandas di tengah jalan 1 tahun kemarin.

Perkenalan mereka sebenarnya sudah terjalin sekitar 1 tahun belakangan, wajar saja sebenarnya mereka satu perusahaan, namun pribadi Dytia yang cuek dan Wira juga seorang pria yang pendiam, jadilah mereka hanya sekedar kenal nama dan wajah tanpa pernah bertegur sapa.

Kedekatan antara Dytia dan Wira berawal dari perjalanan mereka ke Pulau Peucang Ujung Kulon bulan Mei lalu. Perjalanan singkat Jakarta – Ujung Kulon – Jakarta rupanya mampu membuat satu sama lain tanpa tersadar merasa nyaman dengan teman ngobrol baru. Terlebih sepulangnya mereka dari Ujung Kulon, mereka berdua terlibat dalam kepanitiaan sebuah acara amal, yang tentu saja semakin membuat keduanya sering berdiskusi, tukar pikiran bahkan berdebat yang akhirnya membuka rasa rasa saling mengagumi satu sama lain, dan tanpa sadar benih – benih cinta hadir dalam setiap kebersamaan mereka.

Seperti malam – malam sebelumnya, mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar nonton film terbaru di bioskop, kemudian membahas film tersebut sambil makan malam santai. Namun malam itu, sepertinya Wira ingin mengungkapkan sesuatu kepada Dytia.

“Dyt, sepertinya kita saling cocok yaa.. “ ujar Wira. “ hehehe, ya iyalah cocok, kan kita sama sama doyan makan kan Ra “ begitu kira kira jawaban Dytia yang kemudian disambut dengan tawa Dytia.

“Hmm, bukan itu maksudku Dyt, apa kamu gak merasa ada yang aneh dengan hubungan kita akhir – akhir ini, aku merasa hubungan kita bukan sekedar hubungan pertemanan “, kali ini Wira lebih serius berbicara.

“sorry, sorry gw makin gak ngerti loh maksudnya apa Ra” kali ini Dytia terlihat kikuk dan tidak seperti biasanya yang selalu bisa mengatasi suasana sekeruh apapun.

“Iya Dyt, aku ngerasa hubungan kita harus lebih serius lagi, lebih dari sekedar kata teman, teman hidup lebih tepatnya, bagaimana ? “ pertanyaan Wira yang kemudian disambut dengan dingin oleh Dytia.

Dytia masih belum bisa berkata apa – apa, terdiam, bibirnya terasa kelu dan semua pikirannya kabur entah kemana.

“Dyt, hello.. I talk to you loh” Wira membuyarkan lamunan Dytia.

“Gw bingung Ra, sebenernya gw juga ngerasa sayang sama lo lebih dari temen, tapi I know you so well.. gimana dengan Diana ?, gw tau banget Ra, gimana lo berusaha untuk tetap setia dengan Diana, gimana lo berusaha untuk tetap menjaga hubungan lo sama Diana.. gw tau mungkin hubungan kita ini bisa lebih dari persahabatan, tapi apa iya hubungan lo sama Diana harus gw korbankan ? gw juga cewe loh Ra, sakit rasanya kalo di khianati.. “ Dytia kali ini dengan hati – hati menjawab Wira, dia tak ingin menyakiti hati dan perasaan Wira, terlebih hati dan perasaaannya sendiri, karena sebenarnya Dytia pun menyadari hati nya yang telah terbuka untuk sosok pria sederhana, yaitu Wira.

Wira terdiam , tersenyum manis dan kemudian perlahan dia berkata “ Dyt, aku ini laki – laki.. Laki – laki itu yang di pegang omongannya, yang lain juga boleh sih hehehehe . aku sudah menentukan pilihanku apalagi ini pilihan hidup masa depan, dan aku gak main – main. Jika kamu merasa kita bisa menjadi teman hidup, lebaran ini aku akan cerita ke Ibuku dan kita akan segera menikah “

“ Gw, bener – bener gak ngerti harus jawab dan ngomong apa Ra, semua serba mendadak dan gak terpikir sebelumnya. Tapi lagi lagi gw Tanya Ra, gimana dengan Diana ? “ Dytia cemas kali ini, kembali menanyakan bagaimana dengan Mantan Kekasih Wira yang berada di Surabaya. Dytia paham sekalia bagaimana hubungan Wira dengan Diana, dan Dytia tidak ingin dia hadir sebagai wanita perusak hubungan mereka, tidak adil menurut Dytia.

“ Dyt, kamu ngerti kan bahwa antara aku dan Diana sudah tidak ada hubungan apapun. Selama ini aku hanya menjaga kesetiaan cintaku terhadapnya, janji – janjiku akan masa depan hubungan dengannya. Tapi apa yang ku dapat, lagi – lagi rasa sakit, rasa kecewa, ketidakpastian dari Diana. Aku rasa sudah cukup Dyt, aku berkorban dan memikirkan Diana setelah beberapa kali di kecewakan. Aku sudah memutuskan Dyt, kali ini aku harus membahagiakan diriku… Lusa aku akan pulang ke Surabaya, aku akan tegaskan pada Diana bahwa aku sekarang sudah tidak bisa lagi menunggunya dengan segala ketidak pastian hatinya. Aku harus terus melanjutkan hidupku, masa depanku, dan itu dengan kamu Dyt “ Wira mengenggam tangan Dytia, menyakinkan hati Dytia yang di rundung kegelisahan sangat mendalam.

“Ra, gw ngerti gimana lo, gw sedikit paham akan kepribadian lo. Kali ini gw percayakan semua Ra, gw percayakan hati gw untuk lo. Jangan lo sakitin ya Ra.. Gw yakin, lusa saat lo pulang ke Surabaya dan bicara sama Diana, gw yakin lo dengan segala kesungguhan hati lo memilih gw. Bukan karena gw sebagai pelarian, tapi karena lo yakin gw adalah orang yang lo cari selama ini. Gw titip ya Ra hati gw .. “ Dytia kali ini luluh dan kembali mengenggam erat tangan Wira.

“Aku gak nyangka kamu juga bisa ngomong bener begitu ya Dyt “ canda Wira, “ yaudah lanjutin lagi ya makannya “. Wira dengan gaya khasnya memanjakan Dytia sambil mengusap usap kepala Dytia.

“ Maaf mba, permisi mau pesan apa ? “ tiba – tiba suara tersebut membuyarkan lamunan Dytia.

“ohhh,, iya maaf mba.. sorry ya gw jadi ngelamun 1 nasi organic, 1 paha atas dan 1 milo dingin” jawab Dytia malu.

Tiba – tiba handphone Dytia bordering, telepon dari Wira, segera Dytia menjawabnya “ Iya Ra, gimana udah landing di Surabaya ? “

“Baru banget nih Dyt, kamu udah makan kan?” Wira balik bertanya.

“ini gw lagi pesen Ayam di resto favorit kita hehehe” Dytia bersemangat menjawab Wira.

“Oke, maem yang banyak ya, jangan sakit karena aku ga ada deket kamu… nanti malam aku mau ketemu Diana dan membicarakan tentang hubungan kita. Kamu gak usah khawatir Dyt, aku sudah mantap memilih kamu untuk hidupku.. ini janjiku sebagai seorang laki – laki. Tunggu aku di Jakarta mu yaaa.. Love You Dyt “ Wira mengakhiri pembicaraannya dengan Dytia di telepon.

Dytia kemudian menutup handphonenya, tersenyum dan berkata “ Cepat kembali ya Ra, gw tunggu cinta lo di Jakarta.. Love You too Wira …..


Selasa, 22 November 2011

Mi

Saat merindukan cerita cerita indah dengan Pi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar