Tampilkan postingan dengan label kewajiban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kewajiban. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juni 2012

Tentang Anak Angkat dalam Islam


Lagi ubek ubek lepi gak jelas hari sabtu gini, nemu file nya hubby tentang indeks Al Quran. Sebenernya udah pernah lihat file ini cukup lama, tapi mohon maaf ya Alloh baru sekarang punya niatan untuk buka dan baca baca isinya. Sekilas gw cukup tertarik dengan adanya indeks Al Quran ini. Dimana di file dalam bentukkan Ms Excel ini terbagi dalam beberapa sheets, yang didalamnya juga mencakup bahasan secara spesifik tentang hal hal yang berkaitan dengan hukum hukum Islam yang mengatur tentang Makanan & Minuman, Pakaian & Perhiasan, dll.

Nah tiba tiba gw terinspirasi dari salah satu sheet yang berjudul Hukum Privat , dan pas gw baca disitu ada referensi dari Al Quran mengenai anak angkat, berhubung gw sama hubby punya #Athaya, gak ada salahnya gw belajar tentang anak angkat dari Al Quran yang udah jelas jelas merupakan tuntunannya umat muslim, sekalian disini gw share siapa tau ada yang butuh dan semoga ilmu ini bisa bermanfaat. Oiya jangan anggap gw gape alias jago yah dalam masalah penfsiran Al Quran, gw berbekal indeks AlQuran yang mereferensikan Surat dan Ayat berapa dalam Al Quran yang membahas masalah tersebut. Bismillah semoga tidak ada kesalahan pemahaman dari gw dan kesalahan ketik sehingga membuat orang lain menyalah artikan maksud tulisan gw.

1.       QS Al Ahzab Ayat 4
Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri – istrimu yang kamu zihar (*) itu sebagai ibumu., dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan dimulutmu saja. Alloh mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)

(*) zihar ialah perkataan seprang suami kepada istrinya “ punggungmu haram bagiku seperti punggung ibuku” atau perkataan lain yang sama maksudnya. Adalah menjadi kebiasaan orang Arab Jahiliah bahwa apabila dia berkata demikian maka istrinya haram bagi dirinya selama – lamanya. Tetapi setelha islam datang, maka yang haram untuk selama – lamanya itu dihapuskan dan istri istri kembali halal baginya dengan membayar kafarat (denda)

2.       QS Al Ahzab Ayat 5
Panggilah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak – bapak mereka;itulah yang adil disisi Allah,dan jika kamu tidak mengetahui bapak – bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara – saudaramu seagama dan maula –maulamu (*). Dan tidak ada dosa atasmu jka kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun , Maha Penyayang

(*) maula – maula itu hamba sahaya yang sudah di merdekakan atau seseorang yang telah dijadikan anak angkat, seperti Salim anak angkat Huzaifah dipanggil Maula Huzaifah

3.       QS Al Ahzab Ayat 37
Dan (ingatlah) ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya. “Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang engkai menyembunyikan didalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan dengan istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) (*) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri – istri anak – anak angkat mereka, apabila anak – anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.

(*) setelah habis iddahnya.

Dari ketiga ayat tersebut diatas, dalam Islam dijelaskan bahwa anak angkat sampai kapanpun hukumnya tidak sama dengan anak kandung. Meskipun kita mengatakan bahwa anak tersebut adalah anak kandung kita tetapi Allah tidak menyukai hal tersebut. Seperti juga dikatakan bahwa anak angkat dapat dinikahi karena tentu saja seorang anak angkat bukanlah muhrim bagi orang tua angkat mereka sehingga hukumnya boleh untuk dinikahi. Islam juga mengatur bahwa meskipun kita memiliki anak angkat bukan berarti kita dapat menghilangkan nasab (keturunan) dari orang tua kandungnya terutama ayahnya.

Dalma kasus gw, hubby dan #athaya, kami memang sepakat untuk tidak menyembunyikan identitas #athaya yang sesungguhnya. Siapa ibu kandungnya, siapa ayah kandungnya dan siapa keluarga kandungnya sebenarnya. Hal ini bukan berarti pada akhirnya nanti gw sama hubby akan lepas tanggung jawab sama #athaya, kita hanya ingin mengikuti aturan islam sebagaimana mestinya. Gw juga pernah baca dari sebuah blog yang mana gw lupa juga blog siapa hehe, tapi intinya di terangkan ada 2 contoh yang mereka mempunyai anak angkat dan mereka menjelaskan tentang status anak angkat tersebut sedini mungkin salah satu dari contoh tersebut menjelaskan kepada anaknya pada saat si anak umur 4 tahun, surprisenya si anak ga down loh dengan mengetahui identitas sebenarnya ini malahan menurut ibu angkatnya si anak bilang gini “ bu, meskipun aku gak lahir dari perut ibu tapi aku tetap sayang sama ibu sampai kapanpun” Ya Alloh meleleh dan mewek gak sih klo bisa denger kata kata seperti ini dari seorang anak kecil usia 4 – 5 tahunan gitu.

Gw sama hubby juga berniat untuk pelan – pelan jelasin hal ini sama #athaya sedini mungkin, yah mungkin awalnya kita kasih konsep dulu ke dia tentang bagaimana seorang anak hadir dalam sebuah keluarga. Kemudian kita jelasin konsep tentang anak kandung dan anak angkat, setelah itu kita kasih konsep ke dia bahwa dia bukan di buang dari keluarganya (nanti bisa bisa dia benci), dan kemudian kita harus kasih konsep ke dia bahwa rasa sayang kita ke dia besar dan tidak pernah terbersit untuk membeda bedakan karena statusnya dengan anak kandung kami nanti Insya Allah.

Terus kenapa harus sedini mungkin ? menurut sumber blog tersebut secara psikologis, saat anak masih usia dini dia masih bisa kita bentuk konsep dirinya, kita masih bisa mengatur dia dan dia belum punya eksistensi diri yang kuat tentang apa dan bagaimana dia. Coba bayangin kalo dia udah gede, apa dia gak bete terus jadi males sekolah bawaanya malu dan pengen kabur karena tahu dia bukan anak kandung, dan gitu pasti dia nuduh orangtua angkatnya berbohong karena gak menceritakan sejak lama. Yah kejadian kejadian macam ini sering banget kan ada di pelem pelem or sinetron.

Lagian saat si anak masih berusia dini, kita masih bisa dengan mudah merangkulnya saat dia menangis saat dia kaget atau shock dengan mengetahui identitasnya, tapi kalau udah besar dia pasti akan langsung berontak dan susah untuk kita atasi, hmmmhhh kok gw ngerasa alesannya gak ilmiah banget ya hehe.. biarlah sementara ini alesannya sampe gw nemuin link blognya lagi hehehe...

Balik lagi ke gw , hubby dan #athaya. #athaya emang punya akte kelahiran dengan nama orang tua gw dan hubby, hal ini bukan bermaksud untuk memonopoli dia bahwa dia anak kita dan hanya milik kita, hal ini hanya untuk memudahkan administrasi dan someday kalo dia sekolah. Toh pada akhirnya nanti kita akan tetap bilang sama dia status sebenarnya, bahkan hubby bilang biarkan nanti #athaya yang memilih dia akan tinggal dengan siapa. Ya ampun udah kebayang sedihnya kan kalo dia ninggalin gw, tapi hubby bilang jika kita merawatnya dengan tulus #athaya pasti akan tahu dia harus balik kepada siapa dan dia nyaman dengan siapa.

Lagi lagi karena #athaya adalah perempuan dan someday saat dia menikah dia harus punya wali untuk pernikahannya atas dasar nasabnya. Kalau se pengetahuan gw nanti jika #athaya menikah dia tidak menggunakan nasab ayahnya melainkan nasab ibunya dalam kasus kelahirannya. Inipun akan sulit kalau kita menutupi identitas aslinya, nanti bisa bisa kita dosa terus karena sudah paham hukumnya tapi gak dijalankan.

Saat ini gw emang belum memperkenalkan konsep konsep tadi sama #athaya , nanti di usia dia pas 2 tahun gw akan mulai memperkenalkan konsep konsep tersebut, insya allah pengennya sebelum dia masuk SD gw sama hubby udah bisa cerita yang sebenarnya. Bukankah suatu kebaikan itu lebih cepat di ungkapkan akan lebih baik. Insya Allah, mudah mudahan Allah melancarkan semuanya dan terutama #athaya dapat memahaminya sebagai suatu kejujuran yang baik.

Jika suatu saat anak kami tersayang Khalilah Athaya Zahirah membaca postingan ini, percayalah pada kami nak Mami , Papi, Papa, Mama dan Kaka Fazrien always loving you as our family. Apapun dan bagaimanapun kamu, kamu adalah hadiah terindah bagi kami rezeki dari Allah.
Jika suatu saat nanti kamu sudah mengerti siapa kamu dan bagaimana kisah sampai kamu berada diantara kami, percayalah tidak ada seorangpun yang tidak menyayangimu, bahkan ibumu sendiri. Karena ibumu lah yang berjuang antara hidup dan mati agar kamu bisa hidup di dunia dan berada di antara kami.


Tentang Hijab 2


Ternyata gak lama setelah lihat tweetnya UYM tentang hijab , eh gw lihat di FB postingannya Ustad Arifin Ilham (UAI) tentang hijab juga, isinya nyambung banget tentang pelurusan pemahaman berhijab untuk para muslimah. Cekidot buat detailnya sbb:
Sahabatku, mengapa muslimah belum berjilbab?
  1. Belum tahu tujuan, hikmah dan hukum jilbab wajib. Seperti tercantum dalam surat Al Ahzab ayat 59 tentang keharusan wanita memakai jilbab bila berada di luar rumah ; “ Wahai Nabi katakanlah kepada istri – istrimu, anak – anak perempuanmu dan istri – istri orang mukmin. Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Alloh Maha Pengampun , Maha Penyayang.
  2. Tahu tentang ilmunya tetapi belum siap berjilbab
  3. Sangat mencintai dunia
  4. Banyaknya maksiat sehingga belum merasa pantas berjilbab
  5. Pengaruh keluarga, lingkungan, pendidikan, kebiasaan, dan budaya sekuler
  6. Anggapan kalau Islam itu hanya ritual sholat, haji, dll
  7. Anggapan yang penting aku baik padahal agama adalah tunduk patuh pada SYARIATnya
  8. Pengalaman jelek pada wanita berjilbab yang buruk akhlaknya padahal Islam adalah agama sampul (jilbab) dan isi (akhlak mulia)
  9. Merasa tidak cantik dengan berjilbab, padahal kecantikan sebenarnya tatkala menjadi wanita sholehah.
  10. Belum tahu dosa besar dengan siksa pecut api neraka pada bagian aurat yang terbuka
subhanAllah, mulailah mempelajarinya, jangan malu, gengsi, minder atau menunda nunda lagi. Banggalah sebagai wanita mu’minat dan belajarlah kepada sahabat terdekat yang indah dan istiqomah dengan jilbabnya, hidup kita di dunia ini sekedar mampir sahabatku.

Yup begitulah kira kira isi postingannya UAI tentang berjilbab, soo yuk ah para muslimah mari kita identitasi diri kita dengan berjilbab.
Mulai dari diri sendiri,mulai dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang.

Bismillah......

Tentang Hijab 1


Barusan aja liat tweetnya UYM ( Ustad Yusuf Mansyur) mengenai JIL dan Liberal. Beliau mengajak kita u introspeksi diri jgn jgn kita termasuk dalam komunitas JIL & Liberal tanpa kita sadari.
Lah kok bisa? Dasarnya apa? Karena kita gak ada ILMU.gak ada basic ttg agama, gak ada basic ttg aqidah, gak ada basic ttg fiqih, gak ad basic ttg ibadah. Akhirnya kita terbentur sama hal hal tersebut terus malahan bikin kita bingung mana yang bener mana yang salah, semuanya akibat dari kuranganya atau mungkin g ada sama sekali basic tentang itu.

Awalnya gw baca tweetnya UYM ya biasa aja, tapi gw cukup tertarik dan dapat inspirasi waktu lihat salah satu contoh yg UYM kasih ttg perilaku kita yang bisa menjuruskan kita ke JIL or liberal , tapi bisa jadi perilaku ini terjadi semata mata karena kita kurang ilmu di dalamnya.
Apakah contohnya ? hehehe . di tweetnya UYM ngasih contoh begini “ Buat apa jilbabin kepala,? Kalo hati ga di jilbabin” sepintas kata kata ini bener, tapi aslinya RUSAK.

Hmmhh langsung kena deh di hati gw, soalnya gw juga pernah ngalamin ini tapi bukan sebagai orang yang ngoomong gitu, tapi sebagai korban yang kena semprot sama kata kata itu cuman karena gw bilang usaha gw untuk masuk surga salah satunya dengan berhijab.

Paham ga kenapa ini sering jadi perdebatan? Emang banyak orang orang sekitar yang ngomong “ sebelum pake jilbab di benerin aja dlu perilakunya. Percuma aja pake jilbab kalo perilakunya gak bener”. Ya kayak kata UYM tadi, sepintas omongan ini bener, maksudnya supaya gak malu2in kalao udah pake jilbab tapi perilakunya masih aneh aneh atau gak sesuai .

Tapi coba deh di flashback lagi, yang jadi kewajiban inget nih ya KEWAJIBAN bagi seorang muslimah yang sudah akil balig itu apa sih ? menghijabi auratnya atau menghijabi hatinya ? yang WAJIB disini adalah menutup auratnya. Insya Alloh dengan itu hati dan perilakunya akan ikut. Mungkin sebagian kita paham ua sama kewajiban itu artinya apa ? ya sesuatu yang HARUS dilakukan.

Yah gw pribadi juga gak bilang dengan gw berjilbab gw udah 100% suci. Ya enggalah manusia kan makhluk dhoif tempatnya salah dan dosa. Jujur aja ya, gw mulai berjilbab itu desember 2005, trs gw langsung gitu pake jilbab yang syar’i yang nutupin dada, yang kemana mana pake rok ya pokoknya jilbab yang sesuai dengan ketentuannya dan tidak memperlihatkan lekuk tubuh ? jujur engga kok, gw masih pake jilbab yang keliahatan dada, masih suka pake celana jeans ketat dan masih lepas pake terutama karena waktu itu gw masih nyanyi, dan kadang gw suka pergi hang out (caileh bahasanya hang out bok!) dengan gak pake jilbab karena menurut gw emang lebih oke dengan gak berjilbab waktu itu contohnya gw liburan ke Bali tahun 2007. Semua berlangsung gak sebentar loh, dari 2005 sampe tahun 2008 gw lebih banyak lepas jilbabnya dari pada pake jilbabnya.

Alhamdulillah wa syukurilah mulai 2008 sampe sekrang perkembangannya gw signifikan. Mulai pake jilbab yang menutupi dada, menghindari baju ketat dan at least keluar dari pager rumah itu gw HARUS pake jilbab!
Awalnya sih kesemuanya itu bukan pure dari diri gw sendiri, tapi lebih dari faktor eksternal kayak deket sama cowok alim, deket sama keluarga mantan yang agamis, sampe perasaan  malu karena kok gw berjilbab tapi gini amat yak.
Alhamdulillah sekarang udah lebih baik, setelah gw kenal dan nikah sama hubby, dia paling anti kalo sampe gw kaga pake jilbab.
Bersyukur punya suami yang punya basic tentang agama yang cukup bagus dan alhamdulillahnya kita sejalan .
Bersyukur juga gw ga pernah berkata “jilbabin dl hati baru jilbabin kepala” karena emang yang paling penting jilbabin auratnya , karena wajib hukumnya sodara sodara

Tulisan gw diatas Cuma sekedar share ttg sebenernya pemahaman kita sebagai umat muslim harus seperti apa sih tentang tuntunan dan ajaran islam sendiri, apakah sudah benar, hampir benar , cukup benar atau mungkin out of track?
Gw gak bermaksud menyinggung siapapun, minimal untuk introspeksi diri masing masing. Terutama diri gw sendiri u menjadi lebih baik.
Apapun yang benar datangnya pasti dari Alloh SWT sedang yang salah dari gw sebagai manusia.

Wallahualam bishawab.