Selasa, 20 Desember 2011

Jadi ini Namanya Kilang?


Kemarin rombonganku berkunjung ke salah satu kilang minyak perusahaan ini. Tepatnya di RU (Refinery Unit) VI Balongan. Dari Cirebon kira-kira 1 jam perjalanan tanpa macet dengan bus. Kilang ini dikelilingi oleh areal persawahan yang cukup luas yang menjadi pembatas nya dengan pemukiman warga sekitar. Sepanjang pengamatanku juga tak terlihat banyak perumahan di sekitar kilang.

Berdasarkan informasi dari instruktur lapangan, Kilang ini sering disebut dengan kilang selebriti. Karena kilang ini adalah jantung supply minyak ke ibu kota Jakarta. Oleh karenanya mendapat pantauan sangat ketat dari pusat dan tidak diperbolehkan ada kesalahan atau tersendat-nya produksi di kilang ini. Jika sampai terjadi, pasokan bahan bakar ke jakarta akan mengalami masalah. Padahal awal perancangan kilang ini adalah untuk Export Oriented, tapi sesuai perjalanan waktu, karena kebutuhan premium di ibu kota ternyata dari tahun ke tahun semakin besar, akhirnya hasil produksinya dialihkan untuk supply domestik, khususnya DKI Jakarta.


Heran juga sebenarnya, padahal sudah ada imbauan dan pembatasan subsidi terhadap pemakaian premium untuk orang mampu, tapi sepertinya orang Indonesia ini memang susah untuk diajak kerjasama dan kurang tahu malu sehingga orang yang mampu pun masih menggunakan premium. Gak sombong juga bahwa aku sudah menggunakan pertamax pada motorku. Selain karena motorku gak bagus kalo menggunakan premiun, tapi itung-itung sadar diri untuk tidak mengambil jatah rakyat yang kurang mampu.

Setelah mendapatkan pengetahuan sekilas mengenai kilang ini, kami diajak untuk berkeliling kilang naik bus < gak ngebayangin deh kalo keliling pake jalan kaki...pasti gempor kakinya >. Yang menarik ternyata untuk para karyawan kilang sudah disediakan sepeda warna kuning untuk operasional di lapangan. Good habbit... bike to work....

Melihat dari dalam bus, terlihat beragam bagian dari kilang itu sendiri, kami bandingkan dengan apa yang sudah diterima saat di AKAMIGAS STEM kemarin. Bagi teman-teman yang sudah pernah bekerja di kilang pasti sudah familier dengan benda-benda rumit nan ajaib itu. Mungkin karena aku belum terbiasa, jadi aku merasa takjub dengan konstruksi bangunan-bangunan dan komponen raksasa yang sungguh megah dan canggih tersebut.

Ada berbagai macam komponen seperti, CDU, RCC, Water Treatment, Boiler, Furnace, Pre Heater, Flare Tower, Reformer/Platformer, Centrifugal Pump, Hydrogen Plant, tanki timbun, Spherical tank untuk LNG dll. Juga pipa-pipa yang bervariasi ukuran dan panjangnya yang luar biasa serta keruwetan konstruksinya.


Untuk Balongan  ini sendiri adalah kilang dengan tingkat kompleksitas tertinggi di Indonesia karena konfigurasi antar bagian yang saling support dan terkait. Dengan kata lain untuk mengejar efisiensi dari energi, hasil sampingan semisal panas dan tekanan yang dihasilkan oleh satu komponen akan dimanfaatkan oleh komponen yang lain sehingga membentuk semacam siklus. Sehingga tidak akan ada energi yang terbuang percuma. Akan tetapi jika terjadi gangguan pada satu komponen akan berpengaruh pada performa proses secara keseluruhan, sehingga kelancaran proses produksi menjadi hal yang sangat krusial.

Setelah berputar kami diajak ke ruang control utama, untuk melihat proses pengaturan secara terintegrasi dengan apa yang disebut DCS ( Distributed Control System ). Sebenarnya di perusahaan dengan skala besar sistem ini sudah familier untuk digunakan, cuman karena basic ilmu ku bukan instrumentasi ataupun elektronika jadi aku hanya bisa mengangguk-angguk saja saat menerima penjelasan.

Anyway, cukup menyenangkan dan menarik untuk mengetahui sekilas tentang overview kilang secara langsung di lapangan walaupun tidak bisa optimal karena keterbatasan waktu. Tapi akan banyak waktu untukku belajar nanti, karena aku akan segera menjadi bagian dari perusahaan ini, meskipun aku akan berada di kilang yang berbeda walaupun tak terlampau jauh beda juga. Semangat!!!

Be prepared well and do the best... 
CILACAP, here I come.....

Pi

*) Knowing your land, preparing the weapon,keep the sprit and start to the battlefield... MOVE ON !!

Minggu, 18 Desember 2011

Kenapa Bisa Sayang ?


 
Sudah beberapa orang yang menanyakan hal yang serupa. Cukup tergelitik juga untuk kasih penjelasan tentang hal ini.

“ Kenapa kamu bisa sayang banget sama Athaya?

Pertanyaan yang sebenarnya aneh andai ditanyakan pada seseorang yang memiliki anak kandung sendiri. Biasanya dijawab dengan : “ ya wajar dong, kan itu anak sendiri, darah daging sendiri dan penerus generasi keluarga, dll “

Tapi bagaimana jika anak itu bukan anak kandung sendiri ? ... Maksudnya ??

Yes, as you know, Khalilah Athaya Zahirah a.k.a. Athaya / Thaya / Athayut / Ciput / Ndut < banyak banget panggilannya yak > adalah anak adopsiku  dengan Mi. Kita berdua mendapat titipan dari Allah subhanahuwataala untuk merawat makhluk mungil nan manis ini sejak dia berumur 3 minggu.

Jadi dia memang bukan anak kandungku ? Trus kenapa kami bisa sayang sayang padanya?

Ini jawabanku :
Anak....siapapun itu, apalagi bagi kita yang mendapat kepercayaan untuk merawatnya, terlepas dia anak kandung maupun adopsi / anak angkat, semuanya sama. Mereka punya hak untuk hidup dan mendapatkan kasih sayang. Mereka juga tidak memilih untuk dilahirkan. Karena kita telah memutuskan untuk mau menerimanya dengan ikhlas, maka menjadi kewajiban bagi kita pulalah yang harus menyayangi sepenuh hati tanpa terkecuali. Kita tidak boleh membedakan perlakuan. D.O.S.A.

Hal ini sebenarnya yang aku coba wanti-wanti pada diriku sendiri, mi dan anggota keluarga besar yang lain, saat nanti insya Allah kami berdua diberikan anak kandung sendiri <amin ya rabbal alamin>, insya Allah takkan merubah perlakuan kami padanya. Dan itu pulalh yang harus diajarkan pada anak kandung kami itu nanti. Sehingga takkan pernah sedikitpun ada rasa iri ataupun pembedaan perlakuan.Karena bagi kita yang sering dicekoki dengan sinetron-sinetron yang gak jelas dan lebay itu bahwa sering kali anak adopsi dianggap anak tiri yang disia-siakan. Padahal sekaipun TIDAK. Itu haram untuk dilakukan.

Dari awal aku dan Mi secara sadar mengambil Athaya sebagai anak dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang kami miliki serta konsekuensi dari keputusan itu. Kami berusaha untuk memberikan yang terbaik yang kami mampu. Tak melihat latar belakangnya atau apapun, tak ada pembedaan. 


Athaya... anak kesayangan kami.... ladang pahala dan surga bagi kami... insya Allah.


Pi

*) Children... pure and un-sin... no matter where they come from... the only differences are us...who decide to take care them lovely or badly....

GAP


Senior berpesan :

“Baik-baiklah kalian membawa sikap di lapangan nanti, karena yang akan kalian hadapi adalah orang-orang yang lebih senior baik secara ilmu maupun pengalaman, walaupun pada kenyataannya secara sistem mereka nantinya akana menjadi bawahan dan pendukung kalian. Jangan pernah membuat gap, atau kalian akan menyesal”

Pernyataan di atas bukanlah suatu ancaman tapi suatu nasihat yang memenag benar begitu adanya <karena aku pernah mengalami hal yang serupa di perusahaan yang lama>. Yang harus digaris bawahai adalah istilah GAP atau bisa diartikan celah, batas atau jurang pemisah yang menyebabkan seseorang mengambil sikap untuk membatasi dan memberi jarak, karena adanya perbedaan status atau kedudukan yang lebih daripada yang lain. Apapun statusnya itu, jabatan, kelimuan, kepandaian,apapun itu.

Kalau belum pernah mengalami sendiri memang akan sulit untuk meng-intepretasikan dengan benar. Kadang kita tak sadar sudah membuat gap dengan teman, bawahan, bahkan atasan, dan merasa semua baik-baik saja. Baru setelah terkena efek adanya gap itu, baru tersadar dan terasa gak enaknya.Dari awal aku berusaha untuk membekali diri untuk tidak melakukan itu. 

Berdasarkan pengalaman yang lalu di perusahaan lama saat menghadapi rekan kerja yang lebih senior dan expert, kita harus mampu memilah antara saat narus bersikap tegas maupun saat harus mengayomi mereka dengan baik, sehingga nyaman bekerja dengan baik. Sebenarnya cara paling cepat dan baik adalah membina hubungan baik di luar pekerjaan, misalnya dengan olahraga bersama, menyamakan hobby < memancing, sepeda dll>, juga berkenalan dengan keluarga mereka. 

Berhubung aku gak jago olahraga, jadi aku memilih cara yang kedua dan ketiga dan mungkin cara lainnya. Sesuaikan saja dengan kondisi di lapangan. Bekerja sambil belajar dan terus belajar setiap saat.

Pi

*) Knowing your self-ability & position, and you’ll know what others need from you.


> Coba cek link tetangga berikut : Mengatasi bawahan yang sulit , tips untuk menjadi atasan yang disukai

Sabtu, 17 Desember 2011

Padat Teknologi, Padat Modal, Padat Resiko



Tgl 15 Des 2011 adalah hari terakhir di CEPU. Setelah bergulat kurang lebih 8 minggu lebih, akhirnya step 3 dari rangkaian pelatihan di perusahaan plat merah ini akan memasuki fase berikutnya, yaitu Balongan Cirebon.

Sudah banyak hal yang aku alami dan terima di kota yang terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur ini. Kegiatan-kegiatan yang ada telah memberi warna berikutnya bagi perjalanan hidupku. Di sini aku dibina dan dilatih untuk lebih baik lagi mengenali diriku, potensi dan kelemahanku, serta lingkungan sekitar.

Pagi hari sebelum beranjak meninggalkan asrama Vyatra 5 yang telah menjadi rumahku selama 2 bulan terakhir, ada pengarahan dari Bp. Tugas selaku  kepala AKAMIGAS STEM. Beliau memberikan amanah, kesan dan saran bagi kami, alumnus STEM, agar apa-apa yang telah diajarkan menjadi modal yang berharga di lingkungan kerja yang sebenarnya nanti. Juga ditekankan agar selalu menjaga almamater dari kampus STEM, karena semua petinggi yang sekarang menjabat di perusahaan plat merah ini, dulunya juga bersekolah di tempat yang sama. Sekarang semuanya sudah menyebar ke seluruh indonesia bahkan luar negeri.

Dijelaskan pula bahwa lingkungan kerjaku nanti memiliki karakteristik yang PADAT TEKNOLOGI, PADAT MODAL, dan PADAT RESIKO. 

PADAT TEKNOLOGI disini dimaksudkan bahwa teknologi yang digunakan dalam kilang selalu update dan terbarukan . Jadi senantiasa dituntut untuk harus selalu mengikuti perkembangan jaman dan persaingan dengan para kompetitor lainnya.

PADAT MODAL maksudnya bahwa semua peralatan dan teknologi yang digunakan dalam bisnis migas ini memiliki nilai uang dan investasi yang luar biasa besar, jadi harus benar-benar hati dalam segala pengelolaannya.

PADAT RESIKO. Safety first.Hal ini yang sangat penting untuk diperhatikan.Karena kondisi di lapangan yang sangat rawan dengan adanya accident hingga dibutuhkan kewaspadaan, kecermatan dan tanggung jawab yang tinggi. Tidak boleh sedikitpun main-main atau menyepelekan hal-hal yang kecil. Bagaimanapun karena masih baru dan belum berpengalaman, jika tidak tahu mending bertanya daripada sok tahu dan membuat orang lain celaka. Walaupun mungkin secara basic teoritis keilmuan sudah oke. Tetapi tetap saja praktek dan teori itu berbeda.

Good Bye CEPU, thanx for all great experiences....

Pi 
*) Experiences will give you reason to move on, not only to be thought but also felt.

Husband’s note <4> : Big Family

Satu yang aku tahu, pernikahan bukan hanya menyatukan 2 insan, tapi 2 keluarga yang jelas berbeda culturenya, entah itu dari cara berkomunikasinya, cara hidupnya, pendidikan dalam keluarga dsb.

Bisa jadi kita dengan  istri tidak ada masalah, tapi ada anggota keluarga kita yang lain ternyata ada perselisihan atau crash satu sama lain dengan keluarga pasangan kita. Mau gak mau itu akan jadi masalah kita juga. Jangan pernah sekalipun mengabaikannya, karena pada dasarnya semua orang adalah saudara, keturunan Adam dan Hawa, terlebih lagi terikat dengan adanya hubungan pernikahan. Takkan pernah ada manfaatnya untuk bertikai satu sama lain. Kalau di dalam keluarga sendiri saja sudah tidak akur, apa kata dunia?

Kita di situ berperan sebagai mediator. Sangat susah jika terkadang ego dan kepentingan masing-masing masih terkotak-kotak di lingkup pribadi dan untuk sendiri-sendiri dan tidak melihat inti dari permasalahan itu sendiri dan juga rencana besar dari menjadi satu keluarga besar itu sendiri, yaitu kebersamaan dan kebahagiaan. Akan tetapi bukan berarti itu tak mungkin untuk dilakukan kan?

Juga saat ada anggota keluarga atau orang lain mengingatkan/teguran jika kita dinilai menyimpang atau melakukan kesalahan, janganlah itu dianggap sebagai punishment, suatu hukuman ataupun suatu diskriminasi bahwa kita selalu dianggap salah dan gagal, dan akhirnya malah memilih untuk diam saja daripada dipersalahkan lagi. Kalau memang seperti itu, kapan kita bisa maju dan berkembang?

Bukankah akan lebih baik jika bisa sedikit lebih bersabar untuk menerima teguran itu sari sudut pandang yang berbeda, bahwa mereka itu perhatian dan sayang kepada kita, sehingga diingatkan. Terlepas nanti teguran itu ternyata tidak benar adanya, ya sudah diterima saja, untuk cross check dan feed back-nya bisa dilakukan dengan cara yang bijaksana dan tidak frontal. Mengalah bukan berarti kalah. Itu bisa diterapkan di segala bidang apapun. Itu adalah salah stau strategi yang bijakasana dalam proses untuk perbaikan diri.


Ingat, kita adalah satu keluarga, tidak lucu juga jika kita saling bunuh-bunuhan karena masalah apapun. Didasari dengan rasa sayang dan saling memiliki sehingga semuanya akan berjalan dengan nyaman.

Pi
 
*) Love never fails to connect people, only if you ensure and faith on, it will give you more

Husband’s Notes <3> : Match?

Orang sering memutuskan menikah karena dia sudah merasa ‘cocok’ dengan calon pasangan hidupnya. Bolehkah kita sejenak untuk merenungkan kan hal ini lebih dalam?

Sebenarnya sudah sejauh apakah kita sudah ‘cocok’ dengan dia? Sudah sejauh apakah kita sudah mengenalnya? Memahami kekurangan dan kelebihannya? Apakah kita yakin sudah memiliki sikap yang bisa menjadi penyeimbang segala hal tersebut?

Jika kita sudah merasa ‘cocok’ hanya karena kelebihan dan segala hal positif yang dimiliki, dijamin pasti pernikahan tidak akan bertahan lama dan gagal total. Karena sepanjang yang aku alami, dalam hidup berumah tangga lebih banyak hal yang mementingkan pengertian akan adanya kekurangan dari pribadi masing-masing.

Orang biasa pun tahu dan bisa menerima saat seseorang itu cantik, pintar, ramah, baik, perhatian dll. Sebagian besar setuju bahwa itulah pasangan idaman, dan hal-hal inilah yang dianggap sebagai nilai-nilai kecocokan yang ideal sebagai pasangan  hidup hingga akhir nanti. Lalu bagaimana saat dia mulai bersikap curiga, marahaan, ngambek, egois, mau menang sendiri, cuek dll? Apakah itu bukan nilai-nilai yang ada dan mau gak mau harus diterima sebagai bahan pertimbangan dan pemahaman lebih?

Prosentase kedua hal yang saling berlawanan itu sering kali berbeda-beda tiap saat tergantung kondisi dan periode tertentu. Sifatnya unpredictable, kecuali kamu adalah paranormal sakti yang bisa tahu isi hati orang lain. Dalamnya hati siapa yang tahu kawan. Hanya Allah Subhanahuwataala yang maha tahu.

Lalu apa yang harus kita lakukan? it’s up to you, Guys. Different personal different style and treatment. Kalau aku, dari awal niatku untuk serius untuk membina hubungan keluarga dengan Mi, aku sudah tahu takkan semudah membalik telapak tangan kosong. Karena yang harus aku lakukan adalah membalik tangan dengan gantungan beban yang berat, dengan artian ada amanat suci dari Allah yang mengiringi pilihanku saat aku memutuskan untuk meminangnya. Takkan pernah mudah, tapi Insya Allah ikhlas menjalaninya dengan segala konsekuensinya.

Pi
*) Knowing what you needed is better than what you wanted, be prudence

Husband’s notes <2> : Why did you married?

Menjadi suami yang baik tidaklah mudah kawan. Perlu jiwa yang besar untuk menerima semua kekurangan dan kelebihan pasangan, yaitu istri.

Saat 2 insan berbeda gender dengan latar belakang dan kondisi keluarga yang berbeda memutuskan untuk hidup bersama secara sah sebagai apa yang disebut keluarga maka sejatinya semua harus secara sadar dan berkomitmen untuk menjalankan hak dan kewajibannya dengan baik dan benar. Tidak ada yang namanya menan-kalah, semuanya WIN-WIN solution. Karena keluarga adalah satu, tak ada gunanya jika salah satu merasa unggul dari yang lain. Jika itu terjadi, salah satu pasti akan tersakiti. 

Ingatlah selalu tujuan pernikahan itu apa saat terjadi suatu masalah yang melibatkan kedua belah pihak. Berpikiranlah jernih dan tenang, meskipun itu bukanlah hal yang semudah dilaksanakan seperti saat diucapkan. Takkan pernah ada yang mudah seperti kelihatannya dari luar. Tapi itu wajib untuk diperjuangkan. Tak ada jalan lain jika masih ingin mempertahankan pernikahan itu sendiri.

Kontradiksi dan beda pendapat itu wajar dan pasti terjadi karena mulanya dari background yang berbeda, Mustahil bisa selalu sejalan. Dan sebenarnya itulah indahnya perbedaan, saling melengkapi satu sama lain, hal-hal yang sebelumnya tak terpikirkan, ternyata bisa dikombinasikan dengan baik walaupun ada benturan-benturan ego dan kepentingan. 

Sekali lagi ingatlah ‘apa tujuanmu menikah?’ Hal ini harus sudah dipegang kuat sejak awal sehingga tidak akan menyesal di kemudian hari. Jadi saat dirimu khilaf, lupa bahwa istrimu dan keluargamu adalah orang yang seharusnya kamu cintai kalah karena keegoisanmu sendiri, kembalilah tanya pada dirimu sendiri “Mengapa kamu menikah?”

Pi
*) Differences are gorgeous, but need understanding

Jumat, 16 Desember 2011



Husband's Note < 1> : Leader & Mate

Suami, adalah satu kata yang aku sandang sejak tanggal 2 Juli 2011, saat aku mempersunting kekasih hatiku, Mi. Kata itu yang kini melekat di diriku dengan segala properties yang menjadi kelengkapan dan konsekuensinya, yang saat aku berikrar dengan saksi Allah melalui perantara wali, para saksi dan penghulu takkan pernah sedetikpun akan aku tanggalkan di kemudian hari. Aku bersumpah dengan nama Allah bahwa dengan kata itu, aku akan memegang amanat yang terkandung di dalamnya sekuat hati, hingga akhir waktu nanti. Amin.

Semua orang yang normal pasti ingin menikah dan menyandang kata itu. Tapi apakah semua orang tau makna dari memakai kata itu?

Suami adalah pasangan istri. Itu pasti. Hanya itu kah? Tentu tidak kawan. Tentu tidak sesederhana penjelasan dalam kamus ataupun literatur. Berani menyandang kata suami berarti berani untuk menyandang kata ‘imam/pemimpin’ sekaligus ‘sahabat/kawan’ bagi pasangannya, istri.

Imam/pemimpin, adalah pengatur, pembimbing, pelindungi dan pencari nafkah untuk  anggota keluarganya. Dialah nahkoda sebuah kapal rumah tangga, sedang istri adalah navigatornya. Salah memutar kemudi maka salahlah tujuan hidup dari keluraga itu. Dialah pula yang menjadi tulang punggung keluarga utama, terkecuali jika nanti sudah saatnya tiba sang penerus2nya yang menggantikan. Kewajibannyalah untuk mengingatkan atau menasehati anggota keluarga terutama istri, sepahit apapun kondisinya, karena di akhirat nantilah amal  sebagai imam/pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban langsung di hadapan Allah Subhanahuwataala.

Akan tetapi imam/pemimpin bukanlah diktator meskipun dia punya hak veto dalam keluarga. Tak ada orang yang suka menjadi bawahan pemimpin yang otoriter meskipun itu istri dan keluarga sendiri. Suami juga adalah seorang manusia, tidak kurang dan tidak lebih. Dengan segala kekurangan dan kekhilafan. Takkan pernah ada pemimpin yang sempurna kecuali Nabi Muhammad Salallahualaihi wassalam.

Jadi  sebagai pemimpin dan imam yang baik, menurutku baik pula jika kita menjadi sahabat buat istri kita, dimana dia bisa berkeluh kesah, dimana kita bisa mengerti kesulitan dia, dimana kita juga harus belajar dan bersabar dan menahan diri.  Dan pada akhirnya kita bisa mengambil keputusan yang tidak otoriter atau maunya menang sendiri. Karena sudah di-rembug bersama. Ya karena buat kebutuhan bersama, masa iya mau diputusin sendiri.Tapi ketegasan dan sedikit otoriter itu perlu untuk point-point tertentu yang prinsipal untuk ditegakkan dan tidak bisa ditolerir, misalnya masalah ibadah.

Seorang sahabat itu ada di saat diperlukan, tentunya jangan mengambil artian akan selalu ada dalam arti fisik, kalau kondisinya jauh seperti yang aku alami sekarang ya susah, Long Distance Relationship. Menurut pengertianku sebagai suami yang baru belajar, bahwa menjadi sahabat yang selalu ada untuk istri mungkin adalah bisa ikut merasakan di saat suka dan dukanya, meskipun itu hanya lewat telepon, sms, email,  dll. Dalam artian istri kita merasa nyaaman untuk berbicara dengan kita walapun semua serba terbatats waktu dan tempat. Waktu yang sedikit diupayakan seoptimal mungkin. Memang tidak mudah loh kalau cuma diucapkan saja, karena masing-masing insan meskipun sudah bertatus suami-istri pasti ada saja yang berbeda, entah itu egonya, keinginannya, kekeras-kepalaanya, pertimbangannya, kondisi lingkungan dsb. Hal itu lah yang harus dipahami dengan benar.

Aku masih belajar dan terus belajar, karena sejauh ini masih banyak hal yang perlu disempurnakan. Mungkin tidak akan pernah sempurna tapi setidaknya mau dan mampu untuk berusaha yang lebih baik setiap harinya, dimana saja dan kapan saja.

Pi
*) Good person is a learner, who always try to do things better everytime, everywhere.

Check this link : 15 ciri calon suami yang baik 

Jumat, 09 Desember 2011

KERINDUAN

Ini tentang sebuah kerinduan
Kerinduan terhadap pengabdian,
Pengabdian seorang istri kepada suaminya
Yang tak dapat di penuhi saat ini..
Hari hari terasa tanpa makna
Ketika ku bersujud tanpa imam dunia akhiratku
Ketika aku tak lagi bisa membasuh peluhnya dengan tanganku
Dan ketika aku tak lagi bisa bersandar padanya saat lelahku

Tapi aku tenang
Hati kecilku berusaha menguatkan kesedihanku
Rasa cintaku menjadi pengobat rinduku
Mimpi mimpi indah tentang dirinya menjadi bunga tidurku…

Sayang, aku tahu disana engkau sedang berjuang
Berjuang membahagiakan aku
Ku titipkan kesetiaan ini padamu
Untuk nantinya kembali kita rangkai saat engkau kembali…

Mi

Beda Negara, Beda Budaya = Beda Nasib ??

Pagi ini habis makan pagi gw jalan kaki sama temen gw si mila, sebenernya ga ada yang terlalu istimewa sih sepanjang perjalanan kita kira kira 500 meter menuju kantor.. yang istimewa Cuma rasa mie ayamnya aja pagi ini hehehhe *diselipin rasa istimewa karena besok bakalan ketemu denmas ;-) “

Hampir sampe deket kantor, gw ngeliat salah satu manajemen”jepang” di kantor gw lagi mungutin sampah kaya pemulung dengan jarak yang cukup jauh dari kantor gw, dan lebih anehnya lagi dia mungutin sampah di depan kantor orang hehehehehe..

Pertama ngeliat itu gw sama mila komen gini “rajin amat tuh si botak sampe ke kantor orang di bersihin”, awalnya komen kita emang ngejek “kebodohan” si jepun karena sampe mulungin sampah ampe ujung – ujung kantor orang..

Tapi sambil jalan menuju kantor gw juga liat Direktur “jepang” gw ngelakuin hal yang sama, mungutin sampah. Yang tadi nya obrolan gw mengejek para orang orang atas yang mungutin sampah berubah menjadi bahan renungan buat gw…

Di kantor gw emang baru berjalan sekitar kurang lebih 6 bulan ada aktivitas baru yaitu Clean day dan dilakukan pada hari jumat. Nah biasanya di hari jumat ini, waktunya untuk bersih bersih dengan cara mungutin sampah yang berserakan disekitar lingkungan kantor. Untuk mendukung aktivitas tersebut dari dept EHS ( Environment Health and Safety ) menyediakan capitan untuk ngambil sampah dan kantong plastiknya.

Yang menarik disini, aktivitas ini di lakukan pada jam 7 pagi (kantor gw masuk jam 7.30) dan petugasnya adalah levelan Departement Head (Manager) keatas baik local maupun jepang. Mungkin aktivitas ini dilakukan supaya para bawahan juga bisa mencontoh, wong bos nya aja mau jaga kebersihan dan mungut sampah masa anak buahnya malah buang sampah sembarangan.

Sebenernya yg jadi bahan renungan dan mau gw bahas disini bukan kegiatan clean day nya, tapi adalah siapa yang melakukannya….

Hampir 80% yang melakukan adalah orang Jepang, bukan orang local!

Bahkan sampe yang levelnya direktur pun turun tangan untuk melakukan hal yang sama tanpa perbedaan atas jabatannya… wajah mereka keliatan banget ikhlas ngelakuinnya, ga ngerasa malu, gak sok jijik .. pokonya mereka ngelakuin tugasnya dengan maksimal.. bahkan sampe ada yang kantong plastiknya penuh banget sampahnya.

Terus kemana yang local????? Gw liat sekitar ada yang baru markir mobil, ada yang dengan santai jalan masuk ke ruangannya, dan mungkin ada yang belum datang ….

Dalam hati gw bergumam “” hhhhmmmmmhh pantesan orang indonesia jadi bawahan orang jepang, dan pantesan kita masih di jajah sama jepang.. liat aja etos kerja, cara kerja dan gaya orang Indonesia “…

Nah dari hasil kesimpulan renungan gw, dan hasil pengamatan gw gini deh kira kira gambaran yang gw tangkep :

1. Orang – orang Jepang yang ada di kantor gw itu mereka sangat menghormati atasannya. Perintah atasannya selalu mereka lakukan. Kenapa mereka mau ngelakuin perintah atasannya ?? hal yang gw lihat adalah karena saat si atasan memerintahkan sesuatu kepada anak buahnya, diapun melakukan hal yang sama… intinya atasan juga ikut ACTION bukan Cuma asal NGOMONG. Mungkin hal ini yang ngebuat si jepang – jepang lainnya jadi malu hati, orang atasannya aja ngelakuin masa gw bawahannya g mau ngelakuin… beda dengan orang Indonesia, biasanya atasannya nyurh ini itu tapi dia sendiri sebagai atasan tidak mencontohkan hal itu, nah gimana anak buahnya mau ngerasa bertanggung jawab atas apa yang di perintahkan, wong bos nya aja juga g bertanggung jawab…. -à Ketika kamu ingin orang lain melakukan sesuatu untukmu, lakukanlah hal tersebut terlebih dahulu untuk orang lain….

2. orang – orang jepang full commitment.. di kantor ada orang jepang dengan jabatan Senior Executive Director dulunya dia pernah jabat President Director. Beliau setiap di undang dalam event, selalu stay dari awal sampek akhir.. meskipun dia harus ngantuk ngantuk nunggu sampe acaranya selesai.. dan dia juga ga pernah lupa untuk memberikan ucapan terima kasih di akhir acara sama semua panitia atas terselenggaranya event yang berlangsung saat itu. *gw bisa ngomong gitu karena hampir 80% event kantor gw jd panitianya * beda dengan orang Indonesia, mereka di undang untuk suatu acara melalui undangan, surat , email tetep aja gak dateng –gak penting- mungkin buat mereka…. Masih mending kalo ada yang dateng, tapi cuman ngikut ¼ acara trs pulang ilang kemana.. intinya pengen buru buru kabur sebelum acara beres… terkadang mereka juga ga bilang terima kasih kalo engga kita duluan yang nyalamin mereka… à Bawahan bekerja dengan sekuat tenaga untuk memberikan hasil yang terbaik, kehadiran Atasan mereka merupakan dukungan moril tersendiri yang tidak bs dibandingkan dengan materi..

gw ngerasa dua hal mencolok itu yang gw liat perbedaannya dari orang indo dan orang jepun di depan mata gw.. gw gak mukul rata semua sama perilakunya dengan jabaran gw di atas.. Cuma ya sebagian besar begitu lah perilakunya..

gw juga gak berharap banyak orang indo akan berubah dan mencontoh hal baik dari si orang jepun, tapi minimal ini bisa gw dan denmas terapkan jika suatu saat nanti bisa jadi bos atau punya perusahaan *amin……

*semoga postingan kali ini bs menjadi salah satu pengingat untuk papi, jika suatu saat nanti menjadi pemimpin bagi banyak orang.. papi bisa menerapkan 2 sisi positif dari orang orang jepang seperti postingan gw…

Sebuah perusahaan layaknya sebuah orchestra, jika semua unsurnya berbunyi sesuai nada dan irama serta dalam ketukan yang sama maka akan menghasilkan sebuah suara yang indah. Atasan dan bawahan menentukan merdu atau tidaknya suara yang keluar.. karena ini adalah tentang sebuah kerja sama.. bukan tentang memerintah dan dipaksa bekerja……

Mi

< Nostalgia > Hadiah dari Allah


Sejak beberapa minggu yang lalu, aku dan denmas beberapa kali mengunjungi toko yang khusus menjual perlengkapan dan pakaian untuk bayi dan anak - anak. Setiap melihat toko yang menjual perlengkapan dan pakaian bayi, kita pasti tertarik untuk masuk ke toko tersebut, meskipun pada akhirnya hanya sekedar untuk melihat – lihat. Bukan hanya mengunjungi toko yang kita temui di pusat perbelanjaan, aku yang hobi browsing di internet pun sering mengunjungi beberapa toko online yang ada di beberapa situs jejaring social seperti facebook atau twitter.

Suatu ketika terlintas dibenakku untuk membuat usaha yang bergerak dibidang yang sama seperti kegemaranku akhir – akhir ini. Terlebih denmas setuju dengan ideku, dan menyarankan untuk membuat toko online saja, agar aku lebih mudah mengelolanya, karena belum terpikir untuk berhenti bekerja karena buka toko.

Hari itu, Sabtu 22 Januari 2011, aku dan denmas lagi – lagi tertarik masuk kedalam sebuah toko bayi yang letaknya berdekatan dengan tukang martabak yang sedang kita beli malam itu ketika akan berkunjung untuk menjenguk paman yang sakit. Kami berdua kembali mengelilingi toko tersebut, mengamati lagi satu per satu barang – barang yang ada di sana, dan sesekali berdiskusi mengenai kualitas barang dan toko online impianku. “ Mba, ini martabaknya sudah jadi “ ujar si abang martabak, yang tentu saja membuyarkan pembicaraan aku dan denmas mengenai barang yang ada di toko tersebut. “ Oh iya, sebentar bang “ jawabku seraya mengambil martabak itu setelah membayarnya dan kemudia melanjutkan perjalanan dengan denmas ke rumah paman.

Sesampainya di rumah paman, mataku tertuju pada sesosok perempuan yang sedang tertidur di kamar depan rumah paman. Aku melihatnya ketika akan mengambil minum untuk denmas. Sepertinya aku belum pernah melihat perempuan itu, karena masih penasaran aku terus memperhatikannya sambil berjalan menuju dapur.

“ Itu siapa yang tidur di kamar depan? ” tanyaku pada paman dan bibi. “oh, itu Dini, keponakan paman. Oh iya, itu ada bayinya, rencananya mau dikasih ke orang. Mau ga adopsi bayinya ? ujar paman. “ Bohong, masa anak kok mau dikasih ke orang lain?” jawabku tidak percaya. “iya, ibunya si bayi masih sekolah, SMA kelas 3. Karena dia mau melanjutkan sekolahnya, makanya bayinya mau dikasih orang untuk diurus” paman kembali menjelaskan. Entah kenapa aku saat itu berharap memang semua yang dikatakan paman benar, si bayi mau diberikan kepadaku dan aku sangat berharap sekali bisa mengurusnya, meskipun sampai dengan keputusan yang ku ambil dalam hati, sedikitpun belum ku lihat wajah si bayi.

Aku kemudian menoleh kearah denmas, ternyata dia tersenyum. Ini tanda darinya bahwa denmas setuju jika aku mengadopsi bayi itu, kupalingkan wajah ke Papa dan Mama, mereka kemudian mengangguk sambil tersenyum. Ya Allah, semua keluarga sudah menyetujuinya, ingin rasanya segera melihat si bayi.

Tiba – tiba terdengar tangisan si bayi dari kamar, kemudian si ibu ke dapur untuk membuat susu di botol. Aku beranikan diri masuk ke kamar dan melihat sesosok bayi mungil tanpa dosa dengan wajah yang sangat mengharapkan kasih sayang. “ Ya Allah, kasihan sekali nasibmu dek” , gumamku. “ Ini bayinya mau diberikan ke orang untuk dirawat, mau gak?” ujar si nenek bayi tersebut. Tanpa tersadar aku mengangguk setuju dan kemudian dia ku gendong hangat. Malam itu terasa sangat panjang, dan aku ingin segera pagi datang, agar si bayi bisa ku bawa ke rumah.

Keesokan harinya, aku dan denmas berbelanja sedikit keperluan bayi untuk menyambut kedatangan si bayi dirumah. Belum lengkap memang, tapi sepertinya cukup untuk permulaan. Pagi itu, setelah berbelanja, ada yang berbeda dengan suasana rumah. Pagi itu, rumahku kedatangan anggota baru, si kecil yang menggemaskan. Aku dan denmas menaruh harapan dari nama yang kami berikan Khalilah Athaya Zahirah, kami berharap kelak dia yang telah menjadi hadiah kesayangan bisa cemerlang dalam kehidupannya.

Ternyata keinginanku untuk punya toko perlengkapan bayi adalah pertanda bahwa Allah akan memberikan hadiah untuk aku , denmas dan keluarga besarku. Hadiah yang menambah kebahagiaan di kehidupan kami, hadiah yang Allah titipkan untuk kami jaga, semoga amanah ini dapat tertunaikan dengan sebaik-baiknya, amin.


Mi

Rabu, 07 Desember 2011

ROBOT


Apa yang terbayang saat mendengar kata ‘Robot’?

Canggih? Keren? Futuristik? Modern? Logam? Apalagi yang sudah menonton Transformer, terbayang deh kaya gimana yang dimaksud Robot ini.

Cuman yang aku ingin share disini adalah aku yang menjadi robot, atau lebih tepatnya pengalamanku menjadi seorang ‘Robot’.Sebenarnya kenapa aku menulis ini, just be remembered after found one kind of this man a couple days ago.

Aku menemukan diriku yang dulu saat melihat orang ini. Kaku, egois, introvert susah bersosialisasi, individual, ya persis seperti robot gitu yang kaku gerakannya dan bisa dibilang kurang peka. Ditambah sulit untuk merangkai kata saat berkomunikasi. Cenderung untuk lebih enjoy mengerjakan semuanya sendiri. Tapi juga terkadang licik. Maksudnya disini, jika dia melihat orang lain lebih, dia berusaha untuk mencuri ilmunya dengan cara apapun, tapi seandainya dia yang berada di atas yang lain, dia lupa untuk sharing / membaginya pada orang lain dengan berbagai alasan yang kadang masuk akal, kadang juga bisa membuat orang lain kesal karena bisa dibilang gak solider, apatis dsb.

Istilah robot dulu disematkan padaku karena perilakuku tersebut. Kesal juga, karena dulu aku merasa aku gak seperti itu, tiap ada orang yang minta tolong insya Allah pasti dibantu, Cuma memang terkadang kesalnya adalah saat bantuan itu ternyata tak sesuai yang diharapkan, yang aku terima adalah rasa tidak puas n gak terima, karena mereka selalu percaya aku bisa. Dan dibilang aku hanya pura-pura karena takut disaingi. Ya aku pikir, aku ni kan manusia, emang selalu benar? emang selalu pintar? kebetulan mereka mungkin dapat bantuanku yang mungkin kurang mengena. Kalau memang gak puas, ya gak usah minta tolong lagi. Itu dulu, cara berpikir anak muda yang masih kolot.

Sebenarnya kalau aku pikirkan sekarang ya, ada pelajaran yang bisa aku ambil dari kejadian dulu, ini juga berkat Mi yang selalu kasih tau akau untuk selalu memperbaiki diri :

1. Meningkatkan kemampuan komunikasi dan sosisalisasi itu wajib dan perlu, karena kita adalah makhluk sosial dan tentunya gak bakal bisa hidup sendiri. Suatu saat kita di atas, tapi sangat mungkin kita di bawah .ya seperti roda kehidupan. Jadi orang yang dulunya mungkin pernah tak dianggap, ternyata bisa memberikan bantuan yang tak diduga-duga. Intinya berbuat baiklah pada sesama sesuai kemampuan masing-masing, niscaya kita akan mendapatkan imbal balik yang lebih dari yang kita harapkan.

2. Penilaian terhadap diri kita itu tak bisa kita lakukan sendiri, orang lain lah yang akan menilainya. Menurut kita baik tapi belum tentu buat orang lain baik. Diam dan dengarkan segala masukan, baik / buruk telan saja dulu, baru sambil dicerna, yang baik ya diserap, sedang yang buruk ya tinggal lewat saja. Filosofinya adalah kita diberikan telinga 2 dan mulut hanya 1, dalam artian kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Mendengar itu belum tentu mudah bagi beberapa orang, karena egoisme pribadi yang membuatnya akan membentengi diri dengan ego itu dan merasa selalu lebih benar daripada yang lain.

3. Jangan Egois dan apatis, bergaul dan berbagilah dalam hal yang baik. Orang yang berbagi ilmu tak akan kekurangan ilmu, dia justru akan mendapatkan hal-hal yang baru dalam proses berbagi itu yang tak diduga-duga, jangan pelit ilmu. Salah satu yang pernah aku lakukan adalah mengajar sebagai dosen, dengan menjadi dosen itu aku menemukan hal yang baru dari pertanyaan murid-muridku yang memacu akau untuk mencari-dan mencari informasi lebih banyak. Tentunya itu juga akan bermanfaat bagi diriku sendiri.

Sekarang ini, insy aku sudah jauh berubah dari dulu, dengan orang-orang di sekitarku yang terus memacu untuk selalu mengenali dan memperbaiki diri. Walaupun tentunya masih banyak sifat jelek yang harus dikenali dan dirubah perlahan-lahan. Karena sifat bawaan yang sudah terlalu lama ditempa harus bisa dicairkan dengan treatment yang benar, tidak usah terburu-buru yang jelas pasti dan ada progress ke depan.


Thanks for Mi who always support me to know myself and improved well. Love you always

*) life as water on the river. flexible, usefull and even many barrier face it but still know how to reach the ocean.

Pi